Surabaya — Jurnalperistiwa.id,Upaya memperkuat ketahanan biosekuriti sekaligus mendongkrak daya saing ekspor Jawa Timur kembali ditegaskan melalui forum sinergi bertema “Karantina, Pemda dan Media Bersinergi: Menjaga Pintu Masuk, Menguatkan Ekspor di Gerbang Baru Nusantara – Jawa Timur”. Kegiatan yang dihelat di salah satu hotel di Surabaya pada Rabu (10/12/2025) ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah daerah, lembaga karantina, pelaku usaha, serta insan media.
Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyamakan visi, khususnya dalam menjaga pintu masuk Jawa Timur dari ancaman hama penyakit, sekaligus memastikan komoditas ekspor memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar global. Balai Karantina Jawa Timur menegaskan bahwa pengawasan karantina kini berada pada garis depan upaya penguatan ekonomi daerah.
Kepala Balai Karantina Jawa Timur menjelaskan bahwa fungsi karantina tidak lagi sekadar pencegahan penyebaran penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan, tetapi telah berkembang menjadi instrumen penting dalam skema percepatan ekspor.
“Karantina bukan sekadar penjaga lalu lintas hewan dan tumbuhan, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi. Tanpa kepastian keamanan dan mutu melalui sertifikasi karantina, reputasi ekspor Jawa Timur bisa terancam, ” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya terus meningkatkan layanan, mulai dari penguatan sistem ketertelusuran (traceability), sertifikasi sesuai standar internasional, hingga pendampingan kepada pelaku usaha agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.
Dalam forum tersebut, Kepala Bappeda Jawa Timur, Ir. Mohammad Yasin, M.Si, menegaskan posisi strategis provinsi ini sebagai motor ekonomi nasional.
Dengan populasi mencapai 42 juta jiwa dan wilayah administrasi terbesar kedua di Indonesia, Jawa Timur mencatat sejumlah indikator ekonomi yang unggul:
Kontribusi terhadap ekonomi nasional: 14,54%
Pertumbuhan ekonomi 2025: 5,22% (lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,04%)
Industri pengolahan: Penyumbang terbesar PDRB, khususnya sektor makanan dan minuman yang mencapai 54,9%.
“Industri makanan dan minuman sangat bergantung pada keamanan bahan baku. Di sinilah karantina memainkan peran vital, memastikan setiap komoditas aman dan bermutu, ” ujar Yasin.
Ia optimistis, dengan beroperasinya penuh Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan, Jawa Timur akan semakin memperkuat perannya sebagai simpul ekonomi nasional, bahkan berpotensi melampaui kontribusi ekonomi DKI Jakarta.
Karantina Jatim memaparkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung peningkatan nilai ekspor daerah, di antaranya:
Sertifikasi kesehatan hewan, ikan, dan tumbuhan sesuai standar WTO
Peningkatan sistem ketertelusuran (traceability)
Fasilitasi pemenuhan persyaratan teknis untuk pembukaan akses pasar ekspor
Penguatan pengawasan di pintu masuk dan keluar
Bimbingan teknis intensif bagi pelaku usaha ekspor
Tidak hanya aspek teknis, sinergi dengan media massa juga menjadi fokus penting sebagai mitra dalam edukasi publik dan penyampaian informasi yang benar mengenai pentingnya karantina bagi ketahanan sumber daya alam nasional.
Forum berlangsung interaktif dengan sesi dialog yang menyoroti tantangan dan peluang ekspor di era terbukanya Gerbang Baru Nusantara. Perwakilan Dinas Peternakan, DPMPTSP, KPU Tanjung Barat, hingga sektor swasta turut memberikan pandangan dalam panel diskusi.
Seluruh peserta menyepakati bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci untuk menjaga keamanan hayati, mempercepat layanan ekspor, dan meningkatkan daya saing komoditas unggulan Jawa Timur di pasar internasional.
“Dengan sinergi yang kuat, kita tidak hanya menjaga pintu masuk Jawa Timur tetap aman, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutup Kepala Balai Karantina.
Forum ini menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan Jawa Timur sebagai gerbang ekspor yang terpercaya dan kompetitif di kancah global. (red)
Editor : Redaksi