BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Ada anggapan yang selama ini melekat di tengah masyarakat bahwa Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, kurang ramai ketika menjadi lokasi sebuah kegiatan. Pemerintah desa setempat berupaya membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar melalui Festival Rakyat Alas Purwo 2026.
Kepala Desa Sumberasri, Mohamad Yasin mengungkapkan, sejak awal pihaknya memang memiliki keinginan agar desanya menjadi tuan rumah kegiatan seni dan budaya, khususnya Festival Rakyat Alas Purwo.
Keinginan tersebut bukan tanpa alasan. Sumberasri merupakan salah satu desa penyangga sekaligus pemangku kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang memiliki beragam potensi.
"Potensi alam kita cukup lengkap. Ada laut, hutan, persawahan, sampai kebudayaan masyarakat," kata Yasin.
Menurut Yasin, kekuatan Sumberasri tidak hanya terletak pada potensi alam. Keragaman masyarakat serta kehidupan sosial yang rukun juga menjadi modal penting untuk menggelar kegiatan berskala besar.
Sumberasri juga memiliki berbagai lembaga pendidikan, mulai PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, MA hingga pesantren. Berbagai kelompok masyarakat dan organisasi kemasyarakatan pun hidup berdampingan di desa tersebut.
Karena itu, Yasin menilai Sumberasri memiliki modal sosial yang cukup untuk menjadi tuan rumah kegiatan budaya.
Namun, ada satu hal yang ingin dibuktikan melalui Festival Rakyat Alas Purwo 2026. Yasin ingin mematahkan anggapan bahwa Sumberasri kurang ramai ketika menjadi lokasi kegiatan.
"Secara tergelitik, saya memang ingin membongkar sekaligus mematahkan mitos yang selama ini menghantui masyarakat Sumberasri. Di antaranya Sumberasri kurang ramai kalau digelar kegiatan," ujarnya.

Festival Rakyat Alas Purwo 2026 pun menjadi pembuktian. Dengan dukungan berbagai elemen masyarakat, kegiatan yang digagas Padepokan Seni Alang-alang Kumitir pimpinan Punjul Ismuwardoyo tersebut menghadirkan beragam aktivitas sekaligus melibatkan masyarakat setempat.
Indikatornya terlihat dari sektor UMKM. Lebih dari 50 tenda bazar telah terisi oleh para pedagang.
Bagi Yasin, kehadiran para pelaku UMKM menunjukkan adanya kepercayaan bahwa kegiatan di Sumberasri mampu mendatangkan pengunjung.
"Ini menunjukkan para pedagang percaya jika kegiatan di sini akan ramai. Yang membeli bisa orang Sumberasri maupun pengunjung dari tempat lain," katanya.
Festival Rakyat Alas Purwo 2026 juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yasin berharap pelaksanaan tahun ini dapat menjadi prototipe bagi desa-desa lain yang nantinya menjadi lokasi Festival Alas Purwo.
Jika pada tahun berikutnya festival berpindah ke desa lain, Sumberasri juga tidak menutup kemungkinan kembali menggelar kegiatan dengan konsep serupa.
"Kalau nanti kegiatan Festival Alas Purwo dilaksanakan di desa lain, tidak menutup kemungkinan Desa Sumberasri akan menggelar kegiatan serupa yang mengandung unsur kebudayaan, kesenian serta keragaman masyarakat," ungkapnya.
Festival kali ini juga menjadi momentum bagi Sumberasri untuk memperkenalkan ruang terbuka hijau (RTH) yang baru selesai dibangun. Pemerintah desa meluncurkan fasilitas tersebut bersamaan dengan pelaksanaan festival.

Yasin berharap keberadaan RTH dapat menjadi ruang publik baru bagi masyarakat. Selain tempat bersantai, fasilitas tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan serta wadah aktivitas pemuda dan berbagai kelompok masyarakat.
"Kita punya RTH yang sangat bagus. Bisa menjadi ruang pertemuan, ruang bersantai masyarakat, pemuda untuk berkegiatan yang bisa kita nikmati bersama. Ini kita launching saat ini juga," pungkas Yasin.
Hal senada disampaikan Teguh Budi Santoso, kader Muhammadiyah yang aktif di Majelis Ekonomi. Menurut dia, kegiatan tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bagi warga Sumberasri, tetapi juga masyarakat Banyuwangi secara umum.
"Ini perputaran ekonomi jelas akan berjalan baik. Tidak hanya bagi UMKM Sumberasri, namun juga Banyuwangi secara umum," jelasnya.
Sementara itu, persiapan Festival Rakyat Alas Purwo 2026 masih terus dikebut panitia. Penyempurnaan lokasi dan pemasangan berbagai kelengkapan kegiatan dilakukan setiap hari di Kantor Desa Sumberasri.
Persiapan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok pemuda dan komunitas keagamaan.
Dari unsur Muhammadiyah, persiapan melibatkan organisasi otonom seperti Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Kokam, dan Tapak Suci. Sementara dari Nahdlatul Ulama turut terlibat sejumlah badan otonom, di antaranya Fatayat, Muslimat, Banser, Pagar Nusa, IPNU, dan IPPNU.
Persiapan juga melibatkan unsur Pecalang dari umat Hindu. Keterlibatan berbagai elemen tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan pelaksanaan Festival Rakyat Alas Purwo 2026 berjalan lancar.
Bagi Pemerintah Desa Sumberasri, Festival Rakyat Alas Purwo 2026 bukan sekadar pertunjukan seni dan budaya. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa sebuah desa dengan beragam potensi dan latar belakang masyarakat mampu menjadi pusat aktivitas ketika seluruh elemen bergerak bersama. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi