Supono Gelar Konsolidasi Penataan Tatanan Adat Istiadat dan Seni Budaya Rakyat Nusantara

Supono, pengemban Serikat Manusia Merdeka, akan menggelar kegiatan “Serat Uleman Agung”, sebuah konsolidasi penataan tatanan adat istiadat serta seni budaya rakyat Nusantara. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Cinta Kasih Terhadap Isi Alam Semesta Raya”.
Supono, pengemban Serikat Manusia Merdeka, akan menggelar kegiatan “Serat Uleman Agung”, sebuah konsolidasi penataan tatanan adat istiadat serta seni budaya rakyat Nusantara. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Cinta Kasih Terhadap Isi Alam Semesta Raya”.

 

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id — Supono, pengemban Serikat Manusia Merdeka, akan menggelar kegiatan “Serat Uleman Agung”, sebuah konsolidasi penataan tatanan adat istiadat serta seni budaya rakyat Nusantara. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Cinta Kasih Terhadap Isi Alam Semesta Raya”.

Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Rabu Kliwon, (30/9/2026) pukul 09.00 WIB, bertempat di Pendopo Tugu Pranoto Mongso, Bajaran Sido Ganti, Banjar Pertapan, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.

 

Konsolidasi ini membawa pesan tentang pentingnya menempatkan adat istiadat, seni budaya, masyarakat, serta alam semesta dalam sebuah tatanan yang dilandasi nilai cinta kasih, keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

 

Filosofi Batik Soko dan Simbol-Simbol Acara

 

Konsep visual kegiatan tersebut menggunakan gambaran Batik Soko dengan dominasi warna cokelat tua. Warna tersebut dimaknai sebagai simbol bumi dan kesederhanaan, sekaligus menggambarkan kedekatan manusia dengan tanah dan alam sebagai sumber kehidupan.

 

Pada bagian utama terdapat simbol Gunung Emas, yang dimaknai sebagai puncak penataan tatanan. Gunung menjadi gambaran perjalanan menuju sebuah tatanan yang lebih tertata, sementara warna emas merepresentasikan nilai luhur dan cita-cita yang hendak dicapai.

 

Dua bulir padi atau pari menjadi simbol Ibu Pertiwi yang makmur. Padi ditempatkan sebagai lambang kehidupan, pangan, kesejahteraan dan harapan akan kemakmuran masyarakat.

 

Sementara itu, Tugu Pranoto Mongso menjadi simbol waktu dan penanda zaman baru. Pranoto Mongso sendiri berkaitan dengan pengetahuan tradisional masyarakat Jawa dalam membaca siklus waktu dan alam. Dalam konteks kegiatan ini, simbol tersebut menggambarkan momentum untuk memasuki babak baru dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan leluhur.

 

 

Menguatkan Nilai Budaya dan Kehidupan

Di sisi lain, Supono menjelaskan bahwa konsolidasi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap adat istiadat, seni budaya dan hubungan manusia dengan alam.

 

Ia berharap nilai-nilai budaya Nusantara tidak sekadar dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat terus dihidupkan melalui sikap, perilaku dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Menurut Supono, tema yang diusung menjadi pesan utama agar manusia membangun hubungan yang harmonis dengan sesama, lingkungan dan seluruh unsur kehidupan.

 

“Harapannya, melalui konsolidasi ini kita dapat kembali menata kehidupan dengan berlandaskan cinta kasih, menghormati adat istiadat dan seni budaya rakyat Nusantara, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam semesta,” jelas Supono.

 

Ia juga berpesan agar semangat kebudayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap kearifan lokal dan menjaga warisan budaya untuk generasi berikutnya.

 

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum silaturahmi sekaligus ruang konsolidasi bagi mereka yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan adat istiadat dan seni budaya rakyat Nusantara.

 

Dengan semangat “Sanpuraya Sanpuraya Sanpuraya” dan pesan “Salam Revolusi Semesta Raya Jaya — MERDEKA!!!”, kegiatan tersebut membawa gagasan tentang pembaruan yang tetap berakar pada bumi, budaya, kearifan leluhur dan kecintaan terhadap seluruh isi alam semesta. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi