BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Transformasi digital menjadi tantangan sekaligus kebutuhan bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Klinik di Banyuwangi didorong tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mulai mengubah pola pengelolaan layanan, termasuk meninggalkan pencatatan rekam medis berbasis kertas.
Dorongan tersebut mengemuka dalam seminar Perhimpunan Klinik dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Indonesia (PKFI) Cabang Banyuwangi, Sabtu (19/9/2026). Mengusung tema Tantangan Klinik dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Menjadi Pemenang di Era Transformasi Digital, seminar digelar di Hotel Luminor Banyuwangi.
Ketua PKFI Cabang Banyuwangi, dr. Taufiq Hidayat, M.Kes., Sp.And(K), FISQua., mengatakan, seminar tersebut tidak hanya membahas perkembangan teknologi. Pengelola klinik perlu menyiapkan sumber daya manusia, sistem kerja, dan tata kelola data untuk menghadapi perubahan layanan kesehatan.
Salah satu yang menjadi perhatian ialah pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan rekam medis elektronik. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu klinik meningkatkan efisiensi sekaligus mutu pelayanan.
“Di masa mendatang, kami ingin semua klinik yang ada di Banyuwangi tidak ada lagi yang menggunakan kertas untuk mencatat rekam medis. Di masa yang akan datang hukumnya wajib paperless, tidak butuh kertas lagi. Semuanya menggunakan elektronik,” jelas Taufiq.
Menurut dia, penerapan sistem digital perlu dipersiapkan sejak sekarang. Perubahan tidak cukup dengan menyediakan perangkat atau aplikasi. Tenaga kesehatan dan pengelola klinik juga harus memiliki kemampuan untuk mengoperasikan serta memanfaatkan teknologi tersebut.
Pada seminar tersebut, PKFI menghadirkan tiga pemateri dengan bahasan berbeda. dr. Edy Hermanto, pemilik Klinik Brawijaya Banyuwangi, membahas langkah strategis pengelolaan klinik dan FKTP yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di era disruptif.
Edy menyoroti pengelolaan klinik mitra BPJS Kesehatan di tengah perubahan sistem layanan. Menurut dia, pengelola harus memahami dinamika kerja sama tanpa membiarkan urusan administrasi menggeser perhatian terhadap kebutuhan pasien.
“Klinik yang bekerja sama dengan BPJS harus mampu memahami perubahan sistem dan mengelolanya secara strategis. Jangan sampai administrasi dan tuntutan sistem justru menggeser perhatian dari kebutuhan pasien,” ujar dr. Edy Hermanto.
Materi berikutnya disampaikan dr. Khusnul Abidin, S.H., pemilik Klinik Firdaus Banyuwangi. Dia membahas kiat bertahan dalam pengelolaan klinik dan FKTP yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Khusnul menekankan pentingnya kemampuan pengelola membaca kebutuhan pasien dan menjaga kesehatan manajemen klinik. Kepercayaan pasien menjadi salah satu modal penting bagi klinik untuk mempertahankan keberlangsungan layanan.
“Klinik yang tidak bekerja sama dengan BPJS tetap memiliki peluang untuk berkembang. Kuncinya adalah memahami kebutuhan pasien, menjaga kualitas layanan, dan memiliki pengelolaan yang sehat agar klinik bisa bertahan dalam persaingan,” kata dr. Khusnul Abidin.
Mantan Dirut PT. ASKES, dr. Taufik Hidayat, M.M., AAK., CHIP., menjadi salah satu pembicara sekaligus salah satu pemateri utama dalam seminar yang digelar oleh PKFI Cabang Banyuwangi.
Sementara itu, dr. Taufik Hidayat, M.M., AAK., CHIP., mantan Direktur SDM dan Umum PT Askes periode 2013–2018, membawakan materi tantangan klinik dan FKTP untuk menjadi pemenang di era transformasi digital.
Taufik menyoroti perubahan pengelolaan fasilitas kesehatan seiring perkembangan teknologi. Digitalisasi, kata dia, bukan sekadar memindahkan pekerjaan manual ke sistem elektronik. Pemanfaatannya harus menghasilkan proses pelayanan yang lebih efektif serta pengambilan keputusan yang lebih tepat.
“Transformasi digital bukan sekadar memindahkan pekerjaan manual ke sistem digital. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi membuat proses pelayanan menjadi lebih efektif, data lebih mudah dimanfaatkan, dan keputusan pengelola semakin tepat,” terang Taufik.
Dia juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia. Perkembangan teknologi harus diikuti kemampuan tenaga kesehatan dan pengelola dalam memahami serta memanfaatkan sistem digital.
“Teknologinya bisa terus berkembang, tetapi manusianya juga harus ikut berkembang. Pengelola dan tenaga kesehatan harus mampu memahami perubahan agar digitalisasi benar-benar memberi manfaat bagi pasien,” imbuhnya.
Ketua PKFI Cabang Banyuwangi, dr. Taufiq Hidayat, M.Kes., Sp.And(K), FISQua, menyampaikan pesan dan amanatnya kepada seluruh peserta seminar.
Sementara itu, dr. Taufiq Hidayat, M.Kes., Sp.And(K), FISQua., juga menitipkan pesan kepada para pengelola klinik. Dia meminta persaingan antarklinik tidak diarahkan untuk mendiskreditkan fasilitas kesehatan lain.
Sosok yang juga merupakan owner Klinik Amour tersebut, meminta pengelola lebih baik memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas layanan di klinik masing-masing. Kepuasan pasien, kata dia, dapat menjadi modal untuk membangun kepercayaan dan mempertahankan hubungan dengan pasien.
“Jangan mendiskreditkan klinik lain, tetapi tingkatkan kualitas layanan terhadap pasien-pasien yang datang ke klinik kita, supaya pasien yang berobat tersebut bisa merasa puas dan nyaman dengan layanan kita,” ucapnya.
Kepuasan pasien juga berpeluang mendorong kunjungan ulang sekaligus memperluas kepercayaan melalui rekomendasi dari keluarga dan lingkungan terdekat.
“Insyaallah pasien ini akan kembali kalau mereka mengalami sakit di kemudian hari. Kalau pasien puas dengan layanan kita, dia bisa menjadi marketer. Dia akan menyebarkan informasi yang positif kepada keluarga dan tetangganya,” imbuh Taufiq.
Seminar tersebut mempertemukan pembahasan mengenai strategi klinik mitra BPJS, keberlangsungan klinik non-BPJS, dan kesiapan FKTP menghadapi transformasi digital. Perbedaan karakter pengelolaan itu tetap bermuara pada kebutuhan yang sama: meningkatkan kemampuan klinik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Bagi PKFI Banyuwangi, digitalisasi bukan tujuan akhir. Rekam medis elektronik, AI, pembenahan manajemen, dan penguatan sumber daya manusia harus menghasilkan perbaikan yang dirasakan pasien. Ujungnya tetap sama: pelayanan kesehatan yang bermutu, pasien yang nyaman, dan kepercayaan masyarakat yang terjaga. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi