BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus tahlil 1.000 hari almarhumah Hj. Suudiyah digelar di kediaman Advokat Mashuri, S.H., M.H., M.Kn., di Dusun Tebuan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan KH.Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H., pendiri Al-Mumtaz Music Entertainment dan Pondok Pesantren Adz-Dzikra Banyuwangi, sebagai penceramah.
Ketua panitia, Hartono, S.Pd., mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengenang keteladanan Rasulullah SAW. Nilai-nilai yang diajarkan Nabi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Momentum ini menjadi pengingat untuk meneladani apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW dalam kehidupan,” kata Hartono.
Dalam tausiahnya, KH. Achmad Wahyudi mengangkat tema rasa syukur. Dia menjelaskan, nikmat dari Allah dapat dibedakan menjadi dua, yakni nikmat yang diminta dan nikmat yang diberikan tanpa diminta.
Menurut dia, rasa syukur muncul sebagai respons manusia atas nikmat yang diterimanya. Karena itu, setiap orang memiliki alasan untuk mensyukuri kelebihan dan keadaan yang dimilikinya.
“Al-Mumtaz artinya istimewa. Para musisi di Al-Mumtaz Music Entertainment merupakan penyandang disabilitas yang memiliki keistimewaan masing-masing,” ujar KH. Achmad Wahyudi.
Salah seorang musisi Al-Mumtaz, Wahyono, mengatakan kemampuan yang dimilikinya merupakan nikmat dari Allah. Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya melalui musik.
“Keistimewaan yang saya miliki merupakan nikmat yang Allah berikan. Apa pun itu, saya bersyukur,” kata Wahyono.
Selain bermain musik, para musisi tersebut juga mampu melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Kemampuan tersebut menjadi bagian dari kelebihan yang mereka miliki.
Di samping itu, KH. Achmad Wahyudi mengatakan setiap nikmat perlu disadari dan disyukuri. Menurut dia, rasa syukur tidak semata-mata berkaitan dengan apa yang dimiliki, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan kelebihan yang diberikan Allah.
Peringatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan tamu undangan untuk mendoakan almarhumah Hj. Suudiyah melalui tahlil 1.000 hari.
Di sisi lain, Mashuri mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada almarhumah sekaligus sarana mempererat silaturahmi.
“Selain mendoakan almarhumah, kami ingin menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk selalu bersyukur dan meneladani Rasulullah SAW,” ujar Mashuri. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi