BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id - Pagi itu, halaman SMP Negeri 1 Purwoharjo tak seperti biasanya. Puluhan peserta didik kelas VIII H tampak antusias mempraktikkan gerak demi gerakan tari Gandrung di halaman sekolah, Kamis (10/9/2026).
Di bawah bimbingan Sudarminasih, S.Sn, guru mata pelajaran Seni Budaya yang akrab disapa Bu Chosi, para siswa tampak antusias mengikuti setiap gerakan demi gerakan. Maklum, bagi lulusan sarjana tari ini, mengajarkan gerak dasar tari Gandrung bukan sekadar rutinitas kelas, melainkan upaya menjaga warisan budaya Bumi Blambangan agar tetap hidup di kalangan generasi muda.
Wajib Bisa Menari, Tanpa Terkecuali
Bu Chosi menjelaskan, di SMPN 1 Purwoharjo, seni tari bukan sekadar ekstrakurikuler pilihan, melainkan bagian dari materi pembelajaran wajib. Alhasil, seluruh peserta didik, baik yang belum bisa menari maupun yang sudah mahir, tetap diwajibkan menguasai tari Gandrung.
"Alhamdulillah di SMPN 1 Purwoharjo ini karena seni tari masuk dalam materi pembelajaran, sehingga anak-anak baik yang tidak bisa maupun sudah mahir itu wajib bisa menarikan tari Gandrung," ujarnya.
Kewajiban ini pun membuahkan hasil. Setiap ada kegiatan sekolah, tari Gandrung selalu menjadi pembuka acara. Bahkan, saat momen class meeting, tarian ini kerap ditampilkan secara massal dengan jumlah penari yang tak main-main mencapai sekitar 100 siswa menari bersama. Bedanya, dalam pertunjukan massal tersebut, para penari tidak mengenakan kostum Gandrung yang identik, melainkan busana adat.
Jadi Jawara di Tingkat Kecamatan
Nama SMPN 1 Purwoharjo juga cukup disegani ketika berbicara soal ajang Gandrung Sewu, event budaya tahunan kebanggaan Banyuwangi. Menurut Bu Chosi, sekolahnya kerap mendominasi perwakilan dari wilayah Kecamatan Purwoharjo.
"Alhamdulillah untuk sekolah kami menguasai untuk di wilayah Kecamatan Purwoharjo. Hal ini dikarenakan dari lembaga ada, dari desa juga ada," terangnya.
Ia menerangkan, proses seleksi peserta dilakukan dari delapan desa dengan kuota maksimal tiga peserta setiap desa. Alhasil, tiap desa pun berkesempatan mengirimkan wakilnya, yang kebanyakan berasal dari siswa SMPN 1 Purwoharjo.
Tak berhenti di situ, Bu Chosi juga berharap para siswanya kelak mampu mengharumkan nama sekolah ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Alhamdulillah anak-anak kami yang telah lulus mampu terus berprestasi di jenjang SMA," ungkapnya bangga.
Bakat Seni Budaya Merata di Berbagai Bidang
Senada dengan Bu Chosi, guru Seni Budaya lainnya, Deni Setiawan, S.Sn, turut mengapresiasi antusiasme peserta didik dalam mengikuti pembelajaran seni budaya. Menurutnya, anak-anak merasa nyaman dan leluasa mengembangkan potensi bakat serta minat mereka di bidang ini.
Deni menilai, potensi yang dimiliki para siswa terbilang luar biasa dan cukup merata di berbagai cabang seni budaya, mulai dari seni musik, tari, teater, hingga seni suara. Khusus untuk seni suara, ia menyebut cabang ini masih terklasifikasi lagi menjadi seni karawitan, seni vokal, serta seni musik modern.
Ke depan, Deni berharap para siswa semakin giat mengasah potensi yang dimiliki. Salah satu wadah yang bisa dimanfaatkan, kata dia, adalah ajang perlombaan di berbagai tingkat, seperti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Sheryn Naura Ramadhani, Siswi kelas VIII H, mengaku menyukai tari Gandrung sejak duduk di bangku kelas III SD.
Cinta Gandrung Sejak Bangku SD
Semangat melestarikan tari Gandrung juga tampak dari salah satu peserta didik, Sheryn Naura Ramadhani. Ia mengaku sudah mulai belajar menari sejak duduk di bangku kelas III SD.
"Sejak kecil, saya menyukai tari, terutama tari Gandrung," tuturnya.
Kecintaan sejak dini itulah yang menjadi bekal Sheryn dan teman-temannya untuk terus konsisten berlatih, sekaligus menjadi bukti bahwa regenerasi pelestari budaya Gandrung di Banyuwangi tak perlu dikhawatirkan, setidaknya selama semangat seperti ini terus dipupuk dari bangku sekolah. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi