BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Pembelajaran berbasis pengalaman menjadi bagian dari upaya SMK Muhammadiyah 9 Gambiran memperkuat kompetensi peserta didik. Bertepatan dengan pelaksanaan Pajak Bertutur 2026, sekolah tersebut menggelar Study Exercise di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Banyuwangi, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan pada pengenalan perpajakan kepada siswa. SMK Muhammadiyah 9 Gambiran juga menjadikan kunjungan itu sebagai bagian dari penguatan kemitraan institusional dengan KPP Pratama Banyuwangi, terutama untuk mendukung pembelajaran pada bidang Akuntansi dan Keuangan.
Pajak Bertutur merupakan program edukasi perpajakan yang digelar serentak oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Program ini menyasar peserta didik mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya membangun literasi perpajakan serta kesadaran akan peran pajak dalam kehidupan berbangsa.
Bagi SMK Mulan—julukan SMK Muhammadiyah 9 Gambiran, momentum tersebut menjadi sarana experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara konseptual di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan mengobservasi secara langsung lingkungan kerja institusi perpajakan.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan karakter pendidikan vokasi yang menekankan keterkaitan antara kompetensi akademik dan kebutuhan dunia kerja. Pengetahuan akuntansi dan keuangan yang diperoleh di sekolah dapat dikontekstualisasikan melalui pengenalan terhadap proses maupun kultur profesional di lingkungan kerja.
Kepala SMK Muhammadiyah 9 Gambiran, Lutfi Isa Ansori, S.T., Gr. mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi dan kerja sama antara satuan pendidikan dengan KPP Pratama Banyuwangi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun sinergi dan kerja sama dalam bidang Akuntansi dan Keuangan,” kata Lutfi.
Menurutnya, pembelajaran di luar lingkungan sekolah memiliki nilai pedagogis karena memberikan pengalaman yang lebih kontekstual kepada peserta didik. Siswa dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi nyata sehingga pemahaman terhadap kompetensi kejuruan menjadi lebih aplikatif.
"Harapannya, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mendapatkan wawasan mengenai bagaimana kompetensi yang dipelajari di sekolah diterapkan dalam dunia kerja,” ujarnya.
Kepala KPP Pratama Banyuwangi, Kris Rolanto turut menyambut keterlibatan SMK Muhammadiyah 9 Gambiran dalam Pajak Bertutur 2026. Menurutnya, edukasi perpajakan kepada generasi muda dapat menjadi media untuk memperkenalkan fungsi pajak sekaligus membangun literasi perpajakan sejak usia sekolah.
Kolaborasi antara sekolah dan institusi perpajakan tersebut memiliki relevansi dengan pengembangan pendidikan vokasi. Terlebih, peserta didik pada kompetensi Akuntansi dan Keuangan akan berhadapan dengan aspek administrasi keuangan, pencatatan, pelaporan, hingga perpajakan ketika memasuki dunia profesional.
Melalui study exercise tersebut, siswa memperoleh exposure langsung terhadap lingkungan kerja sekaligus memperluas wawasan mengenai praktik perpajakan. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi bagian dari strategi penguatan link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia kerja dan dunia industri.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukatif, tetapi dapat berkembang menjadi bentuk kolaborasi yang mendukung penguatan kompetensi, literasi profesional, serta kesiapan kerja peserta didik SMK Muhammadiyah 9 Gambiran. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi