KSM Bakti Cahaya Sukamade Banyuwangi Diganjar Penghargaan HKAN 2026

Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni (dua dari kiri) memberikan piagam penghargaan kepada perwakilan KSM Bakti Cahaya Sukamade, dalam perhelatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2026 di Taman Margasatwa Nasional Ragunan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni (dua dari kiri) memberikan piagam penghargaan kepada perwakilan KSM Bakti Cahaya Sukamade, dalam perhelatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2026 di Taman Margasatwa Nasional Ragunan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Kiprah masyarakat Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, dalam menjaga kelestarian alam mendapat apresiasi dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bakti Cahaya Sukamade meraih penghargaan pada Puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang digelar di Taman Margasatwa Nasional Ragunan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 640 Tahun 2026 dalam kategori Kelompok Pemberdayaan Masyarakat di sekitar Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, dan Taman Buru.

KSM Bakti Cahaya Sukamade merupakan kelompok binaan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Kelompok tersebut mendapat pendampingan dari Andini S. Purwadana, S.P. Selain TNMB, kelompok ini juga mendapat pembinaan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN.

Tahun ini, HKAN mengusung tema “Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Indonesia”.

 

Jaga Habitat Penyu

Dilansir dari website resmi bakticahayasukamade.com, KSM Bakti Cahaya Sukamade dibentuk pada 1 Maret 2023. Sejak awal, kelompok ini berfokus pada kegiatan konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat di kawasan Sukamade yang berada di sekitar habitat penyu.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membangun instalasi rumah bibit. Kelompok ini juga melakukan penanaman pandan laut untuk membantu menjaga kawasan pantai sekaligus mendukung kelestarian habitat penyu.

Upaya tersebut menunjukkan keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga ekosistem kawasan konservasi. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut mengambil peran dalam pemeliharaan lingkungan.

Kegiatan kelompok juga tidak berhenti pada konservasi. KSM Bakti Cahaya Sukamade mengembangkan sejumlah program pemberdayaan ekonomi, mulai dari kegiatan ternak, dukungan bagi pelaku UMKM, hingga pengolahan produk lokal berupa Virgin Coconut Oil (VCO).

Hasil dari kegiatan tersebut kemudian turut dimanfaatkan untuk kepentingan sosial masyarakat sekitar. 

 

Konservasi dan Ekonomi Berjalan Bersama

Berdasarkan siaran resmi Kementerian Kehutanan RI, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni dalam Puncak HKAN 2026 mengatakan peringatan HKAN harus menjadi momentum untuk mengevaluasi upaya konservasi sekaligus mendorong lahirnya pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif.

“HKAN ini justru harus dijadikan waktu kita untuk mengevaluasi diri kita, mengevaluasi misi kita, mengevaluasi kementerian kita, sejauh mana sebenarnya kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh,” ujar Raja Juli.

Menurutnya, keberhasilan konservasi harus terlihat melalui indikator nyata. Tidak hanya dari kondisi ekosistem dan peningkatan populasi satwa, tetapi juga dari efektivitas pengelolaan kawasan serta manfaat yang dirasakan masyarakat.

Kiprah yang dilakukan KSM Bakti Cahaya Sukamade menjadi salah satu contoh nyata bahwa upaya konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko mengatakan rangkaian HKAN 2026 telah dilaksanakan oleh 74 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen KSDAE di seluruh Indonesia.

Kegiatan tersebut mencakup pemulihan ekosistem, pelepasliaran satwa, pemberdayaan masyarakat, hingga edukasi konservasi.

“Konservasi alam bukanlah sebuah tujuan akhir yang berhenti ketika sebuah acara seremonial usai. Konservasi adalah sebuah perjalanan panjang, sebuah proses peradaban, dan dedikasi tanpa batas,” kata Satyawan.

Kementerian Kehutanan juga memberikan penghargaan kepada sejumlah UPT konservasi dan mitra dunia usaha yang dinilai berkontribusi dalam upaya pelestarian alam.

Puncak HKAN 2026 turut diisi dengan pameran konservasi dari taman nasional di Indonesia, pelepasliaran burung, serta penanaman pohon.

Kementerian Kehutanan menegaskan konservasi membutuhkan keterlibatan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat luas.

Kerja bersama tersebut juga diarahkan untuk mendukung target pengurangan emisi karbon Indonesia melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi