BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Tidak ada perjalanan hidup yang benar-benar sama. Ada yang menempuh jalan berliku sebelum meraih keberhasilan, ada pula yang lebih dahulu diuji dengan kesulitan sebelum menemukan ketenangan. Perbedaan itulah yang menjadi inti tausiyah dari Gus Yunus, sapaan akrab dari Aktivis M. Yunus Wahyudi dalam Pengajian Umum dan Dzikir Akbar di Yayasan Islam Nahdlatul Qodiri Kyai Kembar, Sabtu (1/8/2026).
Di hadapan ratusan jamaah, sosok humble tersebut mengingatkan agar setiap orang berhenti mengukur hidupnya dengan kehidupan orang lain. Menurutnya, Allah SWT telah menetapkan jalan terbaik bagi setiap hamba sesuai dengan kemampuan dan hikmah yang dikehendaki-Nya.
"Setiap manusia punya jalan menuju takdirnya. Jangan merasa tertinggal hanya karena perjalanan orang lain terlihat lebih cepat. Allah sudah mengatur waktu dan jalan masing-masing," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan rezeki, ujian, hingga kesempatan bukanlah alasan untuk saling membandingkan diri. Yang terpenting adalah tetap berusaha, memperbaiki diri, dan menjaga keyakinan bahwa setiap ikhtiar akan menemukan waktunya.
"Ada yang diuji dengan kesempitan agar lebih sabar, ada yang diberi kelapangan agar lebih bersyukur. Semua memiliki pelajaran yang berbeda. Tugas kita adalah menjalani apa yang Allah tetapkan dengan ikhlas," katanya.
Menurutnya, kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain justru sering membuat seseorang kehilangan rasa syukur. Padahal, setiap perjalanan mengandung hikmah yang belum tentu dimiliki orang lain.
Ia mengajak jamaah untuk lebih fokus memperbanyak amal saleh daripada sibuk melihat pencapaian orang lain. Sebab, keberhasilan dalam pandangan manusia belum tentu menjadi ukuran kemuliaan di hadapan Allah.
"Yang dinilai Allah bukan siapa yang paling cepat mencapai sesuatu, tetapi siapa yang paling istiqamah dalam kebaikan. Jalani hidup dengan ikhtiar, doa, dan tawakal," pesannya.
Tausiyah itu ditutup dengan dzikir bersama yang diikuti seluruh jamaah. Dalam suasana khusyuk, pesan Gus Yunus menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan hidup memiliki arah yang berbeda. Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang sampai, melainkan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi