BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Di tengah arus kehidupan yang kerap mengukur seseorang dari penampilan dan pencapaian, Gus Ridha mengajak jamaah melihat kembali makna seorang wanita salehah. Baginya, kemuliaan seorang perempuan tidak lahir dari apa yang tampak di mata manusia, melainkan dari kualitas iman, akhlak, dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
Pesan itu disampaikan dalam Pengajian Umum dan Dzikir Akbar di Yayasan Islam Nahdlatul Qodiri Kyai Kembar, Sabtu (1/8/2026). Di hadapan ratusan jamaah, Gus Ridha mengingatkan bahwa menjadi wanita salehah bukanlah gelar yang diperoleh dalam sekejap. Ia adalah perjalanan panjang yang ditempa melalui kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan menjaga kehormatan diri.
"Perempuan salehah bukan yang paling cantik wajahnya, bukan pula yang paling banyak hartanya. Kemuliaannya ada pada akhlaknya, ibadahnya, serta kemampuannya menjaga diri dan keluarganya," tutur Gus Ridha.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi yang sangat istimewa dalam Islam. Dari rahim seorang ibu lahir generasi yang akan menentukan wajah masa depan. Karena itu, membangun keluarga yang baik selalu berawal dari pribadi perempuan yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup.
Gus Ridha juga mengajak para jamaah untuk tidak terjebak pada ukuran kebahagiaan yang bersifat duniawi. Popularitas, penampilan, maupun kemewahan, katanya, tidak akan bermakna tanpa ketakwaan.
"Jika seorang perempuan menjaga hubungannya dengan Allah, insyaallah Allah akan menjaga kehormatannya di hadapan manusia. Itulah kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun," ujarnya.
Suasana pengajian berlangsung hening. Banyak jamaah menyimak setiap nasihat yang disampaikan. Sesekali terdengar anggukan dan lirih ucapan amin ketika Gus Ridha menekankan pentingnya membangun rumah tangga yang dipenuhi kasih sayang, saling menghormati, dan nilai-nilai keislaman.
Menjelang akhir tausiyah, Gus Ridha menegaskan bahwa predikat wanita salehah bukan sekadar doa yang dipanjatkan, melainkan karakter yang terus dibangun sepanjang hayat. Sebab, menurutnya, perempuan yang menjaga iman dan akhlaknya bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi kehidupan orang-orang di sekitarnya. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi