Berani Pedas, Kaya Rempah, Pecel Pincuk Khas Nganjuk Jadi Buruan Sarapan

Hangat dan autentik. Sepiring nasi pecel khas Nganjuk menjadi pilihan sarapan favorit usai berolahraga.
Hangat dan autentik. Sepiring nasi pecel khas Nganjuk menjadi pilihan sarapan favorit usai berolahraga.

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Pagi di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Desa Genteng Kulon, Kamis (30/7/2026) terasa berbeda. Udara masih sejuk ketika warga mulai memadati area itu untuk berjalan kaki, berlari kecil, hingga bersepeda. Di salah satu sudut kawasan, aroma bumbu pecel yang baru diulek bercampur dengan wangi daun jati, mengundang siapa saja yang melintas untuk singgah.

Warung Sego Pecel Pincuk Godong Jati Khas Nganjuk menjadi salah satu tujuan sarapan para pengunjung RTH Maron. Menu yang ditawarkan sederhana, yakni nasi pecel dan lontong pecel. Nasi pecel dijual Rp 9 ribu, sedangkan pecel dengan tambahan telur dibanderol Rp 13 ribu.

Meski baru beroperasi sekitar tiga bulan, warung itu mulai memiliki pelanggan tetap. Banyak pengunjung datang usai berolahraga untuk menikmati sarapan dengan cita rasa yang berbeda dari pecel pada umumnya.

Kekuatan utamanya terletak pada bumbu. Racikan kacang yang kental dipadukan dengan cabai dan aneka rempah menghasilkan rasa pedas yang tegas tanpa menghilangkan gurihnya.

"Karakter pecel Nganjuk memang ada pada bumbunya. Pedasnya terasa, rempahnya juga lebih kuat. Saya ingin mempertahankan rasa itu," ujar pemilik warung, Rini Eko Siswanti.

Menariknya, Rini bukan pelaku usaha kuliner penuh waktu. Sehari-hari ia bertugas sebagai perawat di RSUD Genteng. Kesibukan melayani pasien tidak menghalanginya mengembangkan usaha yang berangkat dari kecintaannya pada kuliner kampung halaman.

Pemilihan daun jati sebagai alas penyajian bukan sekadar untuk tampilan. Saat nasi hangat disajikan di atas pincuk, aroma khas daun jati ikut memperkaya sensasi menikmati pecel.

"Kalau memakai daun jati, ada aroma yang keluar ketika terkena nasi panas. Itu yang membuat pecel terasa lebih khas," katanya.

Warung tersebut buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 13.30 WIB. Waktu operasional itu sengaja dipilih untuk menyasar pengunjung yang datang sejak pagi.

Sejumlah pelanggan mengaku tertarik karena cita rasanya berbeda. Pedasnya terasa lebih menggigit, sementara aroma rempahnya tetap dominan.

"Saya awalnya penasaran karena disajikan di daun jati. Setelah mencoba, yang paling terasa justru bumbunya. Pedasnya pas dan rempahnya kuat," ujar salah seorang pelanggan yang ditemui di lokasi.

Bagi sebagian pengunjung, menikmati pecel setelah berolahraga menjadi kombinasi yang sulit ditolak. Di tengah suasana pagi yang ramai dan udara yang masih segar, sepiring pecel pincuk dengan bumbu khas Nganjuk menjadi pelengkap yang pas sebelum memulai aktivitas sehari-hari. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi