Temu Silaturahmi Jadi Ajang Muhasabah Diri, KH. Khoirudin: Jangan Sekadar Ganti Tahun, Harus Ada Perubahan

Pengasuh Ponpes Nahdlatul Qodiri, KH. Khoirudin saat ditemui awak media di kediamannya, Kamis (18/6/2026).
Pengasuh Ponpes Nahdlatul Qodiri, KH. Khoirudin saat ditemui awak media di kediamannya, Kamis (18/6/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Bulan Muharram 1448 Hijriah dimaknai KH. Khoirudin sebagai momentum evaluasi diri. Dalam temu silaturahmi yang digelar di Pondok Pesantren Nahdlatul Qodiri, Dusun Seneposari, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kamis (18/6/2026), pengasuh pesantren tersebut mengajak jamaah tidak sekadar merayakan pergantian tahun, tetapi menjadikannya titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Di hadapan jamaah yang hadir, KH. Khoirudin menyoroti kecenderungan banyak orang yang larut dalam rutinitas sehari-hari hingga lupa melakukan introspeksi. Padahal, menurutnya, muhasabah merupakan bagian penting dalam membangun kualitas diri, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

KH. Khoirudin menjelaskan, Muharram sebagai bulan pembuka tahun Hijriah memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Selain menjadi penanda pergantian waktu, Muharram juga menjadi pengingat agar setiap muslim menata kembali niat, memperbaiki ibadah, serta meningkatkan kepedulian sosial.

"Jadikan pergantian tahun ini sebagai momentum untuk memperbarui niat, memperkuat iman, dan meningkatkan amal saleh," tegasnya.

Pesan tersebut disampaikan dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Jamaah diajak merenungkan berbagai pencapaian maupun kekurangan selama setahun terakhir. Evaluasi diri, lanjutnya, bukan untuk meratapi kesalahan masa lalu, melainkan sebagai bekal memperbaiki langkah di masa mendatang.

Pondok Pesantren Nahdlatul Qodiri sendiri diasuh oleh dua ulama kharismatik yang dikenal dengan julukan Kyai Kembar, yakni KH. Khoirudin dan KH. Nuruddin. Temu silaturahmi yang rutin digelar menjadi wadah mempererat ukhuwah antara ulama, santri, dan masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan sosial.

Menutup tausiyahnya, KH. Khoirudin mengingatkan bahwa orang yang cerdas bukanlah mereka yang sibuk menghitung keuntungan dunia, melainkan yang mampu menyadari kekurangan diri dan berusaha memperbaikinya. Menurutnya, perubahan yang besar selalu diawali dari keberanian untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. (Deni/Ikhsan)

Editor : Redaksi