BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Di balik produk kerajinan yang dipasarkan, ada peran pekerja rumahan yang turut terlibat dalam proses produksinya. Salah satunya Suci Nur Hidayati (27), warga Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.
Setiap hari, Suci mengerjakan pemasangan manik-manik pada produk kerajinan yang diterimanya dari pengrajin atau pemilik usaha. Setelah selesai dikerjakan, produk tersebut dikembalikan kepada pemilik untuk dipasarkan ke Bali.
Saat ditemui di rumahnya, Sabtu (13/6/2026), Suci tampak telaten menyelesaikan pesanan yang menumpuk di ruang kerjanya. Pekerjaan itu telah menjadi salah satu sumber tambahan pendapatan bagi keluarganya.
"Saya hanya membantu pemasangan manik-manik. Barangnya sudah disiapkan oleh pengrajin yang menerima pesanan langsung," ujarnya.
Perempuan 27 tahun itu menjelaskan, setiap produk yang berhasil diselesaikan mendapat upah Rp 30 ribu. Besaran penghasilan yang diterima bergantung pada jenis produk yang dikerjakan.
Menurut dia, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi. Sebab, pemasangan manik-manik harus sesuai pola dan standar yang telah ditentukan. Jika kurang rapi, hasil produk dapat memengaruhi kualitas barang yang nantinya dipasarkan.
"Yang penting teliti dan rapi. Kalau hasilnya bagus, biasanya pekerjaan terus ada," katanya.
Suci merupakan salah satu contoh pekerja rumahan yang menjadi bagian dari rantai produksi industri kerajinan. Sistem kerja tersebut memungkinkan pemilik usaha membagi proses produksi kepada masyarakat sekitar sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
Selain membantu pelaku usaha memenuhi permintaan pasar, pola kerja sama itu juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi warga yang ingin bekerja dari rumah.
Kepala Desa Jajag, Bambang Sumantri mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam industri rumahan memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa. Terlebih, produk yang dikerjakan warga mampu menembus pasar luar daerah.
"Ini menjadi potensi ekonomi yang perlu didukung. Warga memperoleh penghasilan tambahan, sementara produk yang dihasilkan juga memiliki pasar yang lebih luas," ujarnya.
Meski demikian, Suci juga berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terhadap pekerja rumahan yang selama ini menjadi bagian dari rantai produksi industri kerajinan. Menurutnya, dukungan berupa pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, hingga akses pemasaran akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kami berharap ada perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Pekerja rumahan seperti kami sangat bergantung pada sektor industri ini. Kalau ada pelatihan atau program pemberdayaan, tentu akan sangat membantu," ungkapnya.
Lebih lanjut, keberadaan pekerja rumahan sering kali luput dari perhatian karena bekerja di balik layar. Padahal, mereka memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan usaha dan memenuhi kebutuhan pasar.
Dari rumah sederhana di Desa Jajag, tangan-tangan terampil seperti milik Suci menjadi bagian penting dalam proses lahirnya sebuah produk kerajinan. Meski jarang terlihat, peran mereka ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat dari tingkat desa hingga luar daerah. (Deni/Ikhsan)
Editor : Redaksi