Surabaya | Jurnalperistiwa.id - Kepedulian kembali ditunjukkan keluarga besar Persebaya Surabaya bersama Bonek dan Bonita. Berawal dari kabar memilukan tentang seorang pelajar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kesulitan membeli buku dan pena untuk kebutuhan sekolah, gelombang empati pun mengalir deras dari Kota Pahlawan.
Diskusi di media sosial menjadi titik awal. Para pendukung setia Persebaya kemudian satu hati dengan manajemen klub untuk menghadirkan aksi nyata melalui program “Donasi Persebaya Untuk Semua” berupa pengumpulan alat tulis sekolah.
Program tersebut resmi dimulai saat Persebaya menggelar laga kandang menghadapi Bhayangkara FC pada Sabtu, 14 Februari 2026. Di momen pertandingan yang digelar di Gelora Bung Tomo (GBT) itu, manajemen menyediakan drop box donasi di Gate 2 dan Gate 15.
Antusiasme suporter begitu terasa. Tak sedikit orang tua yang datang bersama anak-anak mereka untuk menyerahkan donasi secara langsung. Aksi ini pun menjadi ruang edukasi tentang arti berbagi sejak dini.
Salah satu Bonek yang turut ambil bagian adalah Fahmi Akbar Pambudi, warga Sidoarjo. Ia hadir bersama istri dan putri kecilnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar untuk menyerahkan paket donasi.
“Ini sangat positif. Di tengah kondisi ekonomi seperti ini kita bisa saling membantu teman-teman yang kurang beruntung. Sekaligus mengajarkan anak untuk saling berbagi,” ujar Fahmi.
Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam satu malam, manajemen Persebaya mencatat total 18.213 paket donasi berhasil terkumpul. Rinciannya meliputi 6.538 buku tulis, 11.561 alat tulis seperti pena dan pensil, serta 114 tas sekolah.
Capaian ini kembali menegaskan bahwa Persebaya dan Bonek bukan hanya kuat di tribun, tetapi juga solid dalam aksi sosial. Rekam jejak kepedulian itu sudah lama terbangun. Salah satu yang paling ikonik terjadi pada 2019 saat Persebaya bersama Bonek menggelar aksi “lempar boneka” di GBT. Sekitar 20 ribu boneka terkumpul dan kemudian disalurkan kepada anak-anak penderita kanker.
Selain itu, berbagai kegiatan kemanusiaan juga rutin dilakukan ketika bencana melanda sejumlah daerah di Indonesia. Gerakan donasi alat tulis ini pun menjadi bukti bahwa sepak bola bukan sekadar soal pertandingan, tetapi juga tentang solidaritas dan kepedulian sosial.
Semangat “Satu Nyali, Wani!” kembali menemukan maknanya—kali ini bukan hanya di atas lapangan, tetapi juga dalam aksi nyata membantu anak-anak Indonesia meraih pendidikan yang lebih baik. (Red)
Editor : Redaksi