Gandrung Marsan, Jejak Perjuangan yang Kembali Menari di Tegalharjo

Reporter : Biro Banyuwangi
Lewat gerak, musik, dan teatrikal, warga membawa kembali sosok Marsan yang dikenal sebagai gandrung lanang dalam Pawai Budaya Desa Tegalharjo 2026, Sabtu (19/9/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id — Sejarah tak selalu datang dari buku. Di Tegalharjo, Sabtu (19/9/2026), sejarah itu menari. Gandrung Marsan kembali dihidupkan dalam Pawai Budaya 2026, membawa jejak seni yang pernah lekat dengan kisah perjuangan.

Fragmen Gandrung Marsan yang ditampilkan menjadi salah satu sajian yang mencuri perhatian. Lewat gerak, musik, dan teatrikal, warga membawa kembali sosok Marsan yang dikenal sebagai gandrung lanang dalam perjalanan awal perkembangan kesenian Gandrung.

Baca juga: Jelang HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Satlantas Polresta Banyuwangi Sambangi Purnawirawan Polri dan Korban Laka

Kisahnya tidak lepas dari kehidupan masyarakat Osing pada masa penjajahan Belanda. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kesenian yang dibawakan dari satu tempat ke tempat lain bukan sekadar hiburan. Pertunjukan juga dikaitkan dengan upaya menghimpun dukungan, pangan, dan informasi bagi perjuangan.

Di situlah Gandrung Marsan memiliki arti lebih dari sebuah pertunjukan. Seni menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus ruang untuk menjaga kebersamaan dan identitas budaya di tengah situasi penjajahan.

 

Bukan Sekadar Parade

Pawai Budaya Desa Tegalharjo digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Warga dari lima dusun ambil bagian dengan membawa cerita, karakter, dan kesenian yang berkembang di lingkungan masing-masing.

Gandrung Marsan menjadi salah satu gambaran bagaimana sejarah lokal dapat dihidupkan melalui pertunjukan. Cerita masa lalu tidak dibiarkan menjadi kisah yang hanya tersimpan dalam ingatan generasi terdahulu. Warga membawanya ke tengah kerumunan dan menjadikannya tontonan yang sekaligus mengenalkan sejarah kepada generasi muda.

Kepala Desa Tegalharjo Andri Tri Waluyo mengatakan, pemerintah desa memberikan ruang kepada setiap dusun untuk menampilkan potensi dan tradisi yang mereka miliki.

Baca juga: Drama Titik Putih Antar Arsabonta Angkat Trofi Kades Cup Jambewangi 2026

"Kami memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap dusun untuk mengangkat potensi, karakter, cerita, dan tradisi lokal mereka. Melalui pawai ini, kami ingin masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku budaya yang menjaga dan membumikan sejarah warisan leluhur," ujar Andri.

Menurut Andri, keterlibatan warga lintas generasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terlibat dalam persiapan maupun penampilan.

Proses itu sekaligus menjadi ruang pewarisan budaya. Pengetahuan tentang kesenian dan cerita lokal tidak hanya disampaikan melalui tutur, tetapi diperkenalkan lewat pengalaman langsung.

 

Sejarah Dibawa ke Jalanan

Baca juga: PKFI Banyuwangi Tekankan Mutu Layanan Jadi Ujung Transformasi Digital Klinik

Pawai budaya membuat jalan desa berubah menjadi panggung terbuka. Warga tidak hanya menyaksikan berbagai pertunjukan, tetapi juga berhadapan langsung dengan cerita yang membentuk identitas budaya daerah.

Dalam penampilan Gandrung Marsan, sejarah disampaikan melalui bahasa yang dekat dengan masyarakat: gerak tari, musik, dan teatrikal. Cara tersebut membuat kisah masa lalu terasa lebih hidup di tengah kemeriahan pawai.

Pawai Budaya Tegalharjo akhirnya tidak berhenti sebagai parade untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. Di balik kemeriahan itu, warga juga membawa kembali sebagian cerita dari masa lalu.

Di Tegalharjo, sejarah tak sekadar dikenang—ia kembali menari. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru