BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Sosok noni-noni Belanda menyelip di antara riuhnya Pawai Budaya Desa Tegalharjo 2026, Sabtu (19/9/2026). Dengan busana bergaya perempuan Eropa pada era kolonial, mereka menjadi fragmen visual yang membawa penonton menengok kembali jejak sejarah yang pernah mewarnai perjalanan masyarakat di wilayah tersebut.
Penampilan itu menjadi bagian dari eksotisme budaya yang disuguhkan dalam pawai. Bukan untuk menghidupkan kembali romantisme kolonial, melainkan menghadirkan potongan sejarah dalam kemasan pertunjukan yang mudah diterima masyarakat.
Baca juga: Mengetuk Pintu Langit, Petugas dan Warga Binaan Lapas Banyuwangi Gelar Salat Istisqa
Dari Jembatan Kalitakir hingga garis finis di utara Kantor Desa Tegalharjo, beragam karakter dan simbol budaya ditampilkan. Lima dusun, yakni Darungan, Gunungkrikil atau Krikilan, Krajan, Sidodadi, dan Sidomakmur, membawa identitas masing-masing.
Figur noni-noni Belanda menjadi salah satu representasi sejarah. Kostum, tata rias, dan gaya penampilan peserta membangun suasana berbeda di tengah dominasi kesenian tradisional. Sejarah kolonial ditempatkan sebagai salah satu lapisan narasi dalam parade yang lebih luas.
Di sisi lain, eksistensi budaya lokal tetap menjadi warna utama. Dusun Sidodadi, misalnya, mengusung tema Harmoni Mistis melalui atraksi Barong Ider Bumi. Kesenian tersebut tampil berdampingan dengan kontingen yang mengangkat legenda Minak Jinggo.
Kontras tersebut justru memperlihatkan bingkai kebhinekaan dalam kebudayaan masyarakat Tegalharjo. Fragmen sejarah kolonial, tradisi lokal, legenda daerah, hingga ekspresi kesenian masyarakat hadir dalam satu ruang pertunjukan.
Kepala Desa Tegalharjo, Andri Tri Waluyo mengatakan keragaman tema menjadi bagian dari konsep pawai agar setiap dusun memiliki ruang untuk menampilkan karakter dan kreativitas warganya.
Baca juga: Honda Scoopy dan Truk Box Hino Terlibat Kecelakaan, Seorang Lansia Meregang Nyawa
“Kami memberi ruang kepada setiap dusun untuk mengangkat cerita dan budaya yang mereka miliki. Ada sejarah, ada tradisi, ada kesenian, juga ada nilai sosial. Semuanya menjadi satu dalam pawai ini,” kata Andri.
Menurut dia, pawai tidak hanya menjadi ajang pertunjukan. Proses persiapannya turut mempertemukan warga dari berbagai kelompok usia. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa terlibat dalam menyiapkan kostum, properti, hingga atraksi.
“Yang kami harapkan, generasi muda ikut mengenal budaya di sekitarnya. Kalau mereka terlibat langsung, eksistensi budaya lokal memiliki peluang untuk terus hidup dan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu,” ujarnya.
Kehadiran sejumlah kontingen dengan karakter berbeda membuat pawai berlangsung dinamis. Figur noni-noni Belanda menawarkan sisi historis. Barong Ider Bumi menghadirkan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Sementara legenda Minak Jinggo membawa kembali cerita yang lekat dengan identitas budaya Bumi Blambangan.
Baca juga: Barong Ider Bumi dan Legenda Minak Jinggo Jadi Magnet Pawai Budaya Tegalharjo 2026
Pawai tersebut turut dihadiri Forkopimka Glenmore serta sejumlah kepala desa dari wilayah sekitar Tegalharjo.
Dalam konteks sosio-demografi masyarakat desa, parade itu menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok warga. Perbedaan usia, latar sosial, dan pilihan ekspresi budaya melebur dalam satu arak-arakan.
Di situlah Pawai Budaya ini menemukan daya tariknya: eksotisme budaya bukan sekadar tampilan, tetapi menjadi cara warga merawat eksistensi budaya lokal dalam bingkai kebhinekaan. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi