BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Pendidikan karakter menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di SMPN 2 Purwoharjo, Sabtu (29/8/2026). Mengusung tema “Mencintai dan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW akan Membentuk Generasi Mulia”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan karakter peserta didik di tengah lingkungan sekolah yang beragam.
SMPN 2 Purwoharjo memiliki peserta didik dengan latar belakang religisiusitas yang beragam. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di sekolah. Setiap peserta didik tetap memperoleh pembelajaran agama sesuai keyakinannya masing-masing.
Baca juga: Pemotor N-Max Terjatuh di Lemahbangdewo, Diduga mengantuk
Kepala SMPN 2 Purwoharjo, Heri Luqman Santoso, S.E., mengatakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Pembentukan karakter, penguatan sikap, dan kemampuan peserta didik dalam menghargai keberagaman juga menjadi bagian dari proses pendidikan.
“Di sekolah kami ada siswa yang beragama Islam, Hindu, dan Kristen. Masing-masing mendapatkan pembelajaran keagamaan sesuai keyakinan yang dianut. Ini bagian dari proses pendidikan yang kami bangun, bagaimana anak-anak bisa belajar sekaligus hidup berdampingan dalam keberagaman,” ujar Heri.
Menurut Heri, peringatan Maulid Nabi menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi peserta didik muslim untuk mengenal keteladanan Rasulullah SAW. Nilai kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama dapat diterjemahkan ke dalam perilaku di lingkungan sekolah.
“Ketika kita mencintai Rasulullah, kita juga harus berusaha meneladani akhlak beliau. Nilai itu kami harapkan tidak berhenti pada materi atau kegiatan, tetapi menjadi pembiasaan dalam keseharian anak-anak,” jelasnya.
Baca juga: Wayang Kulit di Jajag Jadi Ruang Pewarisan Budaya, Ini Kata Yayuk Banar
Dalam konteks pendidikan, Heri menilai pembiasaan tersebut penting untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kompetensi pengetahuan, tetapi juga karakter dan kecakapan sosial. Interaksi antarsiswa dengan latar belakang agama berbeda menjadi pengalaman langsung dalam membangun sikap toleran dan menghargai perbedaan.
Sementara itu, peserta didik yang beragama Hindu dan Kristen tetap menjalani pembelajaran keagamaan masing-masing pada saat kegiatan keagamaan Islam berlangsung. Pola tersebut menjadi bagian dari penerapan pendidikan yang menghargai keberagaman dan memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai identitas serta keyakinannya.
“Harapan kami, anak-anak memiliki karakter yang kuat. Mereka memahami agamanya masing-masing, tetapi juga mampu menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Itu menjadi bekal penting ketika mereka berada di tengah masyarakat,” kata Heri.
Baca juga: Tak Sekadar Tradisi, Bersih Desa Jajag Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Solidaritas
Peringatan Maulid Nabi di SMPN 2 Purwoharjo pun menjadi bagian dari proses pendidikan yang lebih luas. Keteladanan Rasulullah SAW dipelajari peserta didik muslim, sementara nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan tumbuh dalam keseharian seluruh warga sekolah.
Keberagaman tersebut bukan sekadar komposisi peserta didik. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar yang membentuk kecakapan sosial, toleransi, dan karakter peserta didik dalam kehidupan sekolah. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi