Tak Sekadar Tradisi, Bersih Desa Jajag Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Solidaritas

Reporter : Biro Banyuwangi
Kepala Desa Jajag, Bambang Sumantri (baju hitam) menyerahkan Gunungan kepada Dalang Ki Ichwan Dwi Purbo Carito (Baju Putih). Penyerahan tersebut menandai dimulainya pagelaran lakon yang akan dipentaskan.

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Kegiatan Bersih Desa Jajag bukan hanya sekadar perhelatan tahunan. Di dalamnya terdapat proses pelestarian budaya, penguatan solidaritas, dan perjumpaan sosial warga. Nilai-nilai tersebut terlihat dalam pagelaran wayang kulit di RTH Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Jumat (28/8/2026) malam.

Pagelaran dengan lakon Wahyu Kencono Mulio itu menjadi bagian dari rangkaian Bersih Desa sekaligus peringatan HUT Ke-81 RI. Ki Ichwan Dwi Purbo Carito, dalang milenial asal Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, didapuk menjadi komandan untuk membawakan pertunjukan tersebut.

Baca juga: Pemotor N-Max Terjatuh di Lemahbangdewo, Diduga mengantuk

Di sisi lain, kehadiran seluruh elemen warga dalam pagelaran itu menjadi bagian dari partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa. Panggung wayang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang interaksi dan silaturahmi antarwarga.

Kepala Desa Jajag, Bambang Sumantri mengatakan Bersih Desa memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan tradisi tersebut merupakan bentuk nguri-nguri budaya sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Bersih desa ini sebagai bentuk 'nguri-nguri' budaya. Di samping itu, bersih desa dapat kita artikan sebagai upaya untuk menolak bala. Juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Bambang.

Menurut Bambang, keterlibatan warga menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan Bersih Desa. Persiapan hingga pelaksanaan kegiatan melibatkan gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

“Momentum bersih desa juga merupakan satu momen yang menggambarkan semangat gotong royong, sambung tali silaturahmi,” ujarnya.

Proses tersebut menciptakan ruang bagi terbentuknya interaksi sosial. Keterlibatan warga dalam satu kegiatan bersama juga memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan dan kehidupan desa.

Bersih Desa dengan demikian memiliki fungsi sosial di luar aspek seremoni. Ada proses pertemuan, komunikasi, kerja bersama, dan pewarisan nilai yang berlangsung dalam satu rangkaian kegiatan.

Bambang berharap kebersamaan tersebut tidak berhenti setelah rangkaian Bersih Desa berakhir. Pemeliharaan hubungan sosial dan suasana guyub rukun menjadi bagian dari harapan pemerintah desa.

“Harapan kami agar terwujud kehidupan masyarakat yang guyub rukun. Dari sisi pelayanan pemerintahan desa, kami juga berusaha memberikan yang terbaik,” tuturnya.

 

Baca juga: Wayang Kulit di Jajag Jadi Ruang Pewarisan Budaya, Ini Kata Yayuk Banar

Wayang sebagai Media Pewarisan Nilai

Pagelaran wayang kulit tersebut turut dihadiri Plt Camat Gambiran bersama jajaran Forkopimka. Kepala Desa Purwodadi, Kepala Desa Wringinagung, dan Kepala Desa Wringinrejo juga hadir. Pada kesempatan tersebut hadir pula, sosok srikandi Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Banyuwangi, Ir. Yayuk Banar Sri Pangayom

Plt Camat Gambiran, Budi Wahono, S.T., M.Ling., mengapresiasi pemilihan wayang kulit sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa. Kesenian tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman kulturalnya sejak kecil.

“Saya sejak kecil sudah menyukai wayang kulit,” katanya.

Menurut dia, wayang kulit memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan. Di dalamnya terdapat penyampaian pesan, pewarisan nilai, dan pengenalan kebudayaan kepada masyarakat.

Lakon Wahyu Kencono Mulio yang dimainkan malam itu membawa pesan mengenai kemuliaan manusia. Kedudukan bukan satu-satunya ukuran kemuliaan. Kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain menjadi bagian penting dari nilai tersebut.

Baca juga: Senam Bersama dan Jalan Sehat Warnai HUT ke-81 RI, SRT 1 Banyuwangi Kenalkan Diri ke Masyarakat

Keberadaan pesan moral dalam pertunjukan menunjukkan fungsi wayang sebagai media transmisi nilai. Cerita dan karakter dalam pewayangan menjadi sarana penyampaian pandangan tentang kehidupan kepada penonton.

Dalam konteks seni tradisi, keberadaan wayang juga berkaitan dengan pelestarian dan pewarisan budaya. Tradisi tidak hanya dipertahankan melalui penyelenggaraan acara, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan praktik budaya.

Peringatan HUT Ke-81 RI memberikan dimensi kebangsaan dalam kegiatan tersebut. Identitas nasional hadir berdampingan dengan identitas kultural masyarakat Jajag.

Pertemuan antara tradisi lokal dan momentum nasional itu memperlihatkan keberagaman ekspresi masyarakat dalam memaknai perayaan. Bersih Desa menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus ruang penguatan relasi sosial.

Panggung wayang kulit di RTH Desa Jajag akhirnya memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat pertunjukan. Di sana terdapat pertemuan warga, partisipasi masyarakat, pewarisan nilai, dan pelestarian identitas budaya yang terus berlangsung dari generasi ke generasi. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru