BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Ruas Jalan Gajah Mada, Kecamatan Genteng berubah menjadi panggung budaya, Kamis (27/8/2026). Karnaval tingkat SMP-MTs dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia itu dibuka MTsN 8 Banyuwangi yang mendapat nomor urut pertama.
Matsdelawangi- Sapaan akrab MTsN 8 Banyuwangi membawa lima parade dengan pesan berbeda. Setiap sajian tidak hanya mengandalkan kostum dan pertunjukan, tetapi juga menyampaikan gagasan tentang nasionalisme, budaya, identitas, sejarah, hingga peran generasi muda.
Baca juga: Maulid Nabi di SMAN 1 Cluring, Akhlak Rasulullah Jadi Pijakan Pendidikan Karakter
Parade pertama, Sang Saka Nusantara, mengusung tema “Mengabdi untuk Negeri, Menginspirasi Generasi”. Sang Saka Merah Putih menjadi simbol persatuan, perjuangan, dan kecintaan terhadap tanah air. Pesan utamanya adalah kemerdekaan harus diteruskan melalui pengabdian, prestasi, dan karya generasi muda.
Berikutnya, Banyuwangi Ethno Carnival membawa tema “Warisan Leluhur yang Bertransformasi". Parade ini menggambarkan budaya Banyuwangi yang tetap berakar pada tradisi, tetapi terus berkembang mengikuti zaman. Warisan leluhur diolah menjadi karya kreatif agar tetap dekat dengan generasi masa kini.
Pesona Gandrung hadir dengan tema “Jiwa dan Identitas Banyuwangi”. Gandrung ditampilkan sebagai cermin karakter sekaligus jati diri masyarakat Banyuwangi. Gerak tari, musik, busana, dan ekspresinya menjadi bagian dari warisan budaya dan salah satu kearifan lokal yang perlu dikenali dan diteruskan generasi muda.
Nuansa sejarah hadir melalui teatrikal Perang Puputan Bayu bertajuk “Bara Bumi Blambangan”. Pertunjukan ini menggambarkan keberanian, pengorbanan, dan kegigihan rakyat Blambangan dalam mempertahankan tanah kelahirannya. Bara menjadi simbol semangat perjuangan yang tidak padam dan terus diwariskan sebagai nilai sejarah.
Parade terakhir, Culture of Banyuwangi, mengusung tema “Merawat Warisan, Menjaga Peradaban”. Melalui tari kreasi dan Jaranan Buto, parade ini menunjukkan budaya yang dapat berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya. Generasi muda ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya.
Baca juga: Hindari Motor, APV Senggol Fuso di Jalan Gajah Mada, Nihil Korban Jiwa
Kepala MTsN 8 Banyuwangi, Drs. Anwaruddin, M.Pd.I. mengatakan lima parade tersebut sengaja disusun dengan membawa pesan yang saling berkaitan. Mulai dari semangat kebangsaan, pengenalan budaya, hingga sejarah Banyuwangi.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tampil dalam karnaval, tetapi memahami pesan di balik setiap parade. Mereka belajar tentang nasionalisme, budaya, sejarah, sekaligus bagaimana menjaga warisan leluhur,” ujar Anwaruddin, usai mengikuti rangkaian kegiatan.
Menurutnya, keterlibatan siswa dalam karnaval menjadi kesempatan untuk mengenalkan kekayaan budaya Banyuwangi melalui cara yang dekat dengan dunia pelajar.
Baca juga: SMP Negeri 3 Muncar Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Tanamkan Keteladanan Akhlak kepada Siswa
“Harapannya, mereka semakin mengenal identitas daerahnya dan memiliki kebanggaan untuk merawat budaya Banyuwangi. Kreativitas tetap berkembang, tetapi akar budayanya tidak ditinggalkan,” katanya.
Lima parade tersebut kemudian bergerak menyusuri rute karnaval. Start berada di depan RTH Maron, Kecamatan Genteng, dengan garis finis di Pertigaan Ibrahimy.
Karnaval dimulai pukul 12.00 WIB. Parade MTsN 8 Banyuwangi menjadi pembuka rangkaian peserta SMP-MTs yang membawa beragam ekspresi budaya dan semangat kemerdekaan. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi