BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Festival Endog-Endogan di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, kembali digelar Selasa (25/8/2026). Tradisi yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu diikuti sekitar 1.500 peserta dengan menampilkan 19 kelompok kreasi budaya.
Kegiatan yang masuk agenda Banyuwangi Attraction tersebut mengambil start di depan Masjid Jami' Baiturrahman Kembiritan dan berakhir di Perempatan Pandan. Ribuan peserta membawa kreasi endog-endogan dalam arak-arakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat desa.
Baca juga: Lomba Rakyat Partai Demokrat Banyuwangi Meriah, Michael Edi Hariyanto Sapa Masyarakat
Kepala Desa Kembiritan, Sukamto mengatakan, festival tersebut telah digelar tiga kali. Tradisi Endog-Endogan sendiri telah melekat dalam peringatan Maulid Nabi di Kembiritan selama 28 tahun.
“Tahun ini merupakan pelaksanaan yang ketiga. Jumlah pesertanya sekitar 1.500 orang dengan 19 kreasi yang ditampilkan,” kata Sukamto.
Festival itu turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, tokoh masyarakat, tokoh MUI, BAZNAS, MWC NU Genteng, serta Forpimcam Genteng.
Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani menilai pelaksanaan festival menjadi gambaran kuatnya persatuan warga. Meski pemerintah desa memiliki keterbatasan anggaran, kegiatan tetap dapat berjalan berkat kekompakan masyarakat.
“Saya tahu desa mengalami keterbatasan anggaran, Tapi karena kekompakan warganya, Festival Endog-Endogan ini dapat berjalan setiap tahun,” ujar Ipuk.
Menurut dia, kekompakan tersebut tidak hanya terlihat dalam pelaksanaan festival. Ada budaya berbagi, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Mudah-mudahan pelaksanaan Festival Endog-Endogan yang kita peringati setiap bulan Maulid dapat membawa keberkahan bagi warga Desa Kembiritan, bagi Banyuwangi, dan seluruh masyarakat Kabupaten Banyuwangi,” katanya.
Ipuk menambahkan, Endog-Endogan tidak berhenti pada pelestarian filosofi atau seremoni Maulid Nabi. Tradisi tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk meneladani sifat-sifat terpuji Rasulullah.
“Pada festival ini, bukan hanya aspek filosofis semata yang kita kuatkan. Kita juga mengingat kembali bagaimana Baginda Rasulullah mengajarkan cara membangun akhlak yang baik, kepedulian, dan gotong royong,” ujarnya.
Baca juga: Semarak Bulan Kemerdekaan, Keluarga Bani Misiran Gelar Reuni Sebagai Ajang Temu Kangen
Nilai tersebut, lanjut Ipuk, menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan dunia industri. Kemajuan zaman perlu diimbangi dengan kekuatan hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Seiring berkembangnya teknologi dan dunia industri, kita gerakkan kembali kebersamaan dan persatuan untuk bersama-sama membangun Banyuwangi,” pungkasnya.
Festival ini menjadi ruang pertemuan warga dalam merayakan Maulid Nabi sekaligus merawat tradisi. Lebih dari sekadar arak-arakan kreasi, kegiatan tersebut menghadirkan pesan tentang kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong. (Ikhsan/Deni)
Editor : Biro Banyuwangi