Selamatan Penataan Tatanan Peradaban Digelar di Tapanrejo, Bawa Gagasan Kembali ke Jati Diri Nusantara

Reporter : Biro Banyuwangi
Supono bersama sejumlah pegiat budaya berfoto bersama usai kegiatan selamatan “Penataan Tatanan Peradaban Jaman Kembali Pulang ke Rumah yang Sejati” di Pendopo Tugu Pranoto Mongso Tirto Purwito Sari Nusantoro, Tapanrejo, Banyuwangi, Minggu (16/8/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id  – Gagasan penguatan jati diri dan kebudayaan Nusantara kembali disuarakan dalam selamatan “Penataan Tatanan Peradaban Jaman Kembali Pulang ke Rumah yang Sejati” di Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 10.00 WIB di Pendopo Tugu Pranoto Mongso Tirto Purwito Sari Nusantoro. Supono menyebut selamatan itu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas keselamatan proses yang disebutnya sebagai penataan tatanan peradaban.

Baca juga: Siswi 14 Tahun Tewas Terlindas Truk di Jalur Lintas Selatan Glenmore

Kegiatan ini dilakukan setelah satu minggu digelarnya Kongres Kebudayaan Nusantara I yang digelar di Kabupaten Malang pada 8 Agustus 2026. Kongres tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang juga menempatkan penguatan jati diri, kebudayaan, adat, dan sejarah Nusantara sebagai bagian penting dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Salah satu rekomendasi kongres ialah pengusulan Cultural Guiding System atau Sistem Panduan Kebudayaan. Sistem tersebut diharapkan menjadi kompas dalam kebijakan pembangunan nasional sehingga kebudayaan tidak hanya ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan ekonomi dan infrastruktur.

 

Dari Aksara hingga Pendidikan

Hasil sidang komisi Kongres Kebudayaan Nusantara I juga mendorong penyusunan serta pengintegrasian kembali berbagai aksara Nusantara.

Aksara daerah diharapkan dapat digunakan lebih luas sebagai bagian dari identitas kebudayaan nasional. Gagasan tersebut mengambil pembelajaran dari sejumlah negara Asia yang mampu mempertahankan aksara dan identitas budayanya di tengah perkembangan zaman.

Di bidang pendidikan, kongres merekomendasikan reformasi kurikulum berbasis budaya. Sejarah peradaban lokal, termasuk masa kerajaan Nusantara hingga periode pergerakan nasional, didorong untuk dipelajari lebih mendalam pada seluruh jenjang pendidikan.

Konsep mata pelajaran Muatan Lokal juga didorong untuk dikembangkan menjadi pengetahuan kebudayaan nasional. Dengan demikian, keragaman budaya dari berbagai daerah dapat dipelajari generasi muda secara lebih luas.

Rekomendasi lainnya berkaitan dengan penguatan perlindungan hukum terhadap warisan kebudayaan asli dan masyarakat adat. Kongres juga mendorong penguatan pemaknaan dan peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kongres tersebut juga menyepakati keberlanjutan forum sebagai gerakan kebudayaan. Forum lintas generasi itu diarahkan menjadi ruang koordinasi antar-entitas budaya secara berkelanjutan.

Baca juga: Honda Beat Hantam Belakang Bus Harapan Baru, Pelajar 14 Tahun Alami Patah Tulang

 

Supono Serukan Kembali ke Jati Diri

Di sisi lain, Supono menyampaikan gagasan mengenai “rumah yang sejati”. Istilah tersebut, menurut dia, merujuk pada Rumah Besar Bersama, Rumah Adat Rakyat Nusantara, dan Rumah Adat Warga Bangsa Nusantara yang juga disebut sebagai “Nagari Adat Bangsa Nusantara”.

Supono mengajak putra-putri Nusantara dari Sabang sampai Merauke untuk kembali memahami jati diri setiap manusia. Dia menyebut upaya tersebut sebagai bagian dari perjuangan menuju apa yang disebutnya sebagai “kemerdekaan yang sesungguhnya”.

“Dengan ini aku, diriku Supono yang satu, Pengemban Amanat Penataan Tatanan Peradaban Jaman, kembali ke jati diri setiap diri manusia, kembali ke jati dirinya demi terwujudnya kemerdekaan yang sesungguhnya,” demikian inti pesan Supono.

Dia juga menekankan pentingnya persatuan, keselamatan, penghormatan terhadap sesama, serta keberlangsungan kehidupan bersama.

Baca juga: Tertabrak Pickup dan Mobil, Pejalan Kaki 61 Tahun Tewas di Kabat

 

Tekankan Adat dan Kebudayaan Nusantara

Supono mengaitkan gagasan penataan tatanan peradaban dengan nilai spiritual yang diyakininya. Dalam penyampaiannya, dia menyebut Sanghyang Pencipta, Sanghyang Maha Segalanya, dan Sanghyang Maha Esa sebagai landasan keyakinan terhadap tatanan peradaban Jagad Semesta Raya.

Gagasan tersebut menempatkan jati diri manusia, adat, budaya, kebersamaan, serta kehidupan masyarakat Nusantara sebagai unsur penting dalam membangun tatanan kehidupan.

Meski memiliki ruang dan latar berbeda, gagasan yang disampaikan dalam kegiatan di Tapanrejo memiliki irisan tema dengan sejumlah rekomendasi Kongres Kebudayaan Nusantara I, terutama terkait pentingnya jati diri, kebudayaan, adat, sejarah, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Nusantara.

Supono menegaskan, konsep “rumah besar bersama” hendaknya dimaknai sebagai ruang kehidupan yang dapat menaungi seluruh warga bangsa dengan menjunjung martabat manusia, persatuan, dan nilai-nilai kebersamaan. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru