Bukan Bangun Tugu, Mahasiswa KKN UGM Pilih Tinggalkan Ilmu untuk Warga Muncar

Reporter : Biro Banyuwangi
Sebanyak 26 mahasiswa KKN UGM berfoto bersama Camat Muncar, Drs. Khalid Askandar usai acara pelepasan di Pendopo Kecamatan Muncar, Jumat (7/8/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Pelepasan 26 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2026 di Pendopo Kecamatan Muncar, Jumat (7/8/2026), berlangsung hangat. Bukan tanpa alasan. Program yang mereka jalankan dinilai memberi dampak langsung bagi masyarakat karena berfokus pada transfer pengetahuan, bukan sekadar meninggalkan bangunan fisik.

Sebanyak 26 mahasiswa dibagi ke dua desa, masing-masing 13 orang di Desa Wringinputih dan 13 orang di Desa Sumberberas. Selama beberapa pekan, mereka menggarap program di bidang pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan digitalisasi usaha masyarakat.

Baca juga: Dinilai Rawan Kecelakaan, Portal di Simpang Empat Palurejo Akhirnya Dibongkar

Dalam bidang pendidikan, mahasiswa memberikan sosialisasi strategi masuk perguruan tinggi negeri. Pada sektor ekonomi, warga dikenalkan dengan konsep startup dan pengembangan usaha. Di bidang lingkungan, mereka mengajarkan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk. Sementara itu, pelaku UMKM mendapat pendampingan membuat konten digital untuk memperluas pasar.

Camat Muncar, Drs. Khalid Askandar menilai pola pengabdian semacam itu lebih dibutuhkan masyarakat desa saat ini.

“Saya kurang suka kalau hasil KKN hanya membuat tugu. Yang dibutuhkan masyarakat justru ilmu dan keterampilan yang bisa terus dipakai setelah mahasiswa pulang,” ujarnya.

Menurutnya, program yang dijalankan mahasiswa UGM menyentuh kebutuhan nyata masyarakat, mulai pendidikan, ekonomi, hingga penguatan kapasitas warga di era digital.

“Saya bersyukur dengan kedatangan para mahasiswa ini karena sangat bermanfaat bagi masyarakat, mahasiswa, pemerintah desa, kecamatan, sampai pemerintah kabupaten,” katanya.

Baca juga: Warga Binaan Lapas Banyuwangi Siap Meriahkan HUT RI ke 81 dengan Berbagai Perlombaan

Di sela acara pelepasan, Khalid juga berpesan agar para mahasiswa tak hanya fokus pada kegiatan pengabdian. Ia mendorong mereka mengenal lebih dekat kekayaan alam dan budaya Banyuwangi selama menjalani KKN.

“Silakan eksplorasi alam dan budaya Banyuwangi. Banyak potensi yang bisa dipelajari dan diceritakan ketika nanti kembali ke daerah asal,” pesannya.

Ajakan itu ternyata disambut antusias. Sejumlah mahasiswa mengaku memanfaatkan waktu luang untuk menikmati destinasi wisata di Banyuwangi. Mereka sempat snorkeling di Pulau Menjangan, menikmati hamparan pasir putih Pulau Tabuhan, hingga berjalan-jalan di Pulau Merah yang menurut mereka bersih dan indah.

Baca juga: Seminar Hasil Program KKN - BBK 8 Unair, Sinergi Mahasiswa dan Pemerintah Kecamatan Pesanggaran untuk Pemberdayaan Warga

Beberapa destinasi lain, seperti Kawah Ijen dan Pulau Bedil, belum sempat mereka kunjungi karena keterbatasan waktu. Menariknya, keinginan mendatangi tempat-tempat tersebut muncul setelah mereka melihat berbagai video wisata Banyuwangi yang ramai beredar di media sosial.

Salah seorang mahasiswa KKN UGM mengaku pengalaman tinggal di Banyuwangi memberikan kesan tersendiri, baik dari sisi pengabdian maupun wisata.

“Kami datang untuk belajar bersama masyarakat, tetapi juga mendapat pengalaman yang tidak terlupakan. Banyuwangi ternyata punya banyak tempat indah yang selama ini hanya kami lihat di media sosial. Semoga suatu saat kami bisa kembali untuk mengunjungi Kawah Ijen dan Pulau Bedil,” ujarnya. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru