Bagi e-Best Law Firm, Integritas Tak Hanya Diuji di Pengadilan, tetapi Juga di Majelis Ilmu

Reporter : Biro Banyuwangi
Eko Budiyanto, S.H , Advokat dari e-Best Law Firm tengah duduk bersama Gus Ridha dalam Pengajian umum dan Majelis Akbar Yayasan Nahdlatul Qodiri Kyai Kembar, Sabtu (1/8/2026).

BANYUWANGI | Jurnalperistiwa.id – Integritas seorang advokat tidak hanya dibentuk melalui penguasaan hukum dan pengalaman di ruang sidang. Nilai-nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab juga ditempa melalui pembinaan spiritual. Semangat itulah yang ditunjukkan keluarga besar e-Best Law Firm saat menghadiri Pengajian Umum dan Dzikir Akbar di Yayasan Islam Nahdlatul Qodiri Kyai Kembar, Sabtu (1/8/2026).

Di tengah ratusan jamaah, Budiyanto bersama jajaran advokat e-Best Law Firm mengikuti seluruh rangkaian pengajian hingga dzikir akbar. Kehadiran mereka menjadi cerminan bahwa profesionalisme tidak dapat dipisahkan dari pembentukan karakter dan akhlak.

Baca juga: Gus Yunus: Setiap Manusia Punya Jalan Menuju Takdirnya

Budiyanto mengatakan, profesi advokat membawa amanah besar karena menyangkut kepercayaan masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas hukum harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai moral.

"Seorang advokat tidak cukup hanya memahami hukum. Ia juga harus memiliki integritas, kejujuran, dan hati nurani. Majelis ilmu seperti ini menjadi pengingat agar setiap langkah yang kami ambil tetap berpijak pada nilai-nilai kebaikan," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Siti Hamidah, S.H., yang akrab disapa Mbak Leda. Menurutnya, seorang advokat bukan hanya dituntut cakap berbicara di depan majelis hakim, tetapi juga mampu menjaga etika dan empati saat mendampingi masyarakat yang sedang mencari keadilan.

"Kami ingin menjadi advokat yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Pengajian seperti ini menjadi ruang untuk terus memperbaiki diri agar profesi yang kami jalani benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Baca juga: Gus Ridha: Wanita Salehah Bukan Diukur dari Penampilan, tetapi Kemuliaan Akhlaknya

Sementara itu, Yuliani, S.H., menilai pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam membangun profesionalisme. Menurutnya, kecerdasan hukum harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

"Ilmu hukum mengajarkan tentang keadilan, sedangkan majelis ilmu mengajarkan keikhlasan dan kejujuran. Ketika keduanya berjalan seiring, insyaallah kami dapat memberikan pendampingan hukum yang lebih bertanggung jawab dan berintegritas," katanya.

Pengasuh Yayasan Islam Nahdlatul Qodiri Kyai Kembar, KH. Khoiruddin, menyambut baik kehadiran berbagai kalangan dalam pengajian rutin Malam Minggu Legi. Baginya, majelis ilmu menjadi ruang yang menyatukan semua profesi dalam semangat memperbaiki diri.

Baca juga: Dua Bulan, 54 Prestasi, MTs Negeri 8 Banyuwangi Panen Juara

"Majelis ini terbuka bagi siapa saja. Semakin banyak orang yang datang untuk menimba ilmu dan berdzikir, semakin besar pula harapan lahirnya pribadi-pribadi yang membawa manfaat bagi sesama," ujar KH. Khoiruddin.

Pengajian ditutup dengan dzikir akbar yang diikuti seluruh jamaah. Di tengah lantunan doa, tampak bahwa nilai-nilai yang dibangun di majelis tidak berhenti pada ritual ibadah, tetapi menjadi bekal moral bagi setiap profesi, termasuk para advokat yang setiap hari mengemban amanah menegakkan keadilan. (Ikhsan/Deni)

Editor : Biro Banyuwangi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru