SUPONO Gelar Pagelaran Agung Wayang Ruwat Ringgit Purwo di Banyuwangi

Reporter : Wartawan
SUPONO Gelar Pagelaran Agung Wayang Ruwat Ringgit Purwo di Banyuwangi

Banyuwangi | Jurnalperistiwa.id -  SUPONO, selaku pengemban Paguyuban Serikat Manusia Merdeka, menggelar sebuah pagelaran agung bertajuk wayang ruwat Ringgit Purwo, yang sarat makna spiritual dan kearifan budaya Nusantara. Acara ini merupakan bagian dari prosesi Ruwatan Murwo Kolo Nagari Adat Bumi Nusantara Kang Pungkasan, yang dimaknai sebagai ruwatan terakhir dalam siklus tertentu penanggalan Jawa Dwipa/Mahesa.

 

Baca juga: Restu Dari Madura : ABI MUNIF TEGASKAN FPMI SOLID MENANGKAN ERI CAHYADI DI PILGUB JATIM

Pagelaran sakral tersebut diselenggarakan pada Kamis Kliwon, 23 April 2026, bertepatan dengan Respati Kasih 21 Mangsa Dasama tahun ke-8858 Jawa Dwipa/Mahesa. Kegiatan berlangsung di Pendopo Tugu Pranoto Mongso, Banjar Pertapan, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Lokasi ini dipilih karena memiliki nilai historis dan spiritual sebagai ruang pertemuan budaya dan laku batin masyarakat.

 

Mengusung tema besar “Bangkitnya Penataan Tatanan Peradaban Zaman Kembali Jati Diri Setiap Diri Suku Bangsa Manusia di Seluruh Penjuru Dunia (Jawa Dwipa Mahesa Purwo Nusantara Langgeng Semesta Raya)”, pagelaran ini menjadi simbol refleksi dan ajakan untuk kembali pada jati diri manusia yang selaras dengan alam semesta.

 

Dalam keterangannya, SUPONO menjelaskan bahwa ruwatan ini bukan sekadar pertunjukan seni wayang, melainkan sebuah laku spiritual yang bertujuan membersihkan energi negatif, baik dalam diri manusia maupun dalam tatanan kehidupan sosial dan alam. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi titik penting untuk membangun kembali kesadaran kolektif manusia agar hidup selaras dengan nilai-nilai luhur leluhur.

 

Baca juga: Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Lamongan Gelar Silaturahmi dan Berikan SK Ketua Ranting Dan Komisariat Mari Jaga L

“Pagelaran ini adalah panggilan untuk kembali mengenali jati diri sejati sebagai manusia merdeka. Ruwatan bukan hanya membersihkan secara simbolik, tetapi juga mengajak setiap individu untuk menata ulang batin, pikiran, dan tindakan demi harmoni semesta,” ujar SUPONO.

 

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kondisi dunia saat ini membutuhkan penataan ulang peradaban yang berakar pada kearifan lokal, namun tetap relevan secara universal. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Nusantara, khususnya melalui wayang purwo, memiliki kekuatan untuk menjadi panduan kehidupan global.

 

Baca juga: LAYANAN SIM KELILING JEMPUT BOLA ( SIM JEMPOL ) DI KECAMATAN MUNCAR

Pagelaran ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, budayawan, hingga masyarakat umum yang datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti prosesi ruwatan. Suasana berlangsung khidmat, dengan iringan gamelan dan lakon wayang yang menggambarkan perjalanan manusia dalam menghadapi kegelapan menuju pencerahan.

 

Melalui kegiatan ini, SUPONO berharap semangat kebangkitan jati diri dan penataan kembali peradaban dapat tumbuh, tidak hanya di lingkungan lokal, tetapi juga menjalar ke seluruh penjuru dunia sebagai bagian dari kesadaran bersama umat manusia. ( ikhsan Suryadi )

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru