Surabaya | Jurnalperistiwa.id – Pagi itu, Minggu (14/2/2026), suasana di area makam RW 06 Siwalankerto Selatan, Surabaya, tampak berbeda dari biasanya. Sejak matahari belum terlalu tinggi, warga sudah berdatangan membawa sapu, sabit, cangkul, hingga kantong sampah. Bukan sekadar kerja bakti, melainkan wujud kebersamaan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan melalui tradisi Megengan atau nyekar.
Area makam yang biasanya lengang berubah menjadi penuh aktivitas. Para bapak tampak membersihkan rumput liar dan merapikan nisan yang mulai tertutup tanah dan lumut. Ibu-ibu menyapu dedaunan kering yang berserakan, sementara para pemuda sigap membantu mengangkut sampah dan menata lingkungan sekitar agar terlihat lebih rapi dan bersih.
Baca juga: Serah Terima SK Ketua DPC MADAS Pamekasan, Momentum Penguatan Organisasi di Tingkat Daerah
Tradisi Megengan bagi warga RW 06 bukan hanya agenda rutin tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Membersihkan makam menjadi perlambang membersihkan hati, menata niat, serta memperkuat kembali ikatan kebersamaan antarwarga.
Ketua panitia, Hepiyanto, SHI., MHI., MM., menyampaikan bahwa Megengan memiliki nilai spiritual dan sosial yang mendalam.
Baca juga: Polres Magetan Raih Nilai Sempurna IKPA Bukti Pengelolaan Anggaran yang Profesional dan Akuntabel
“Megengan ini bukan hanya tentang bersih-bersih makam, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga. Momentum bulan puasa kami jadikan kesempatan untuk bersama-sama mengirim doa kepada para ahli kubur, sekaligus mempersiapkan diri agar lebih baik dalam menjalankan ibadah,” ujarnya.
Setelah kerja bakti selesai, warga berkumpul membentuk lingkaran sederhana di tengah area makam yang telah bersih. Lantunan tahlil dan doa menggema khidmat di antara nisan-nisan. Suasana hening menyelimuti prosesi kirim doa tersebut. Beberapa warga tampak menundukkan kepala, larut dalam doa dan harapan agar Ramadan tahun ini membawa keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Kegiatan yang digelar oleh RW 06 Siwalankerto Selatan ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi kota Surabaya. Megengan tidak sekadar ritual budaya, melainkan ruang pertemuan antara nilai spiritualitas, kearifan lokal, dan solidaritas sosial.
Dengan hati yang lebih tenang dan lingkungan makam yang kini bersih dan tertata, warga RW 06 bersiap menyambut Ramadan dengan semangat baru. Mereka berharap, sebagaimana makam yang telah dirapikan, hati pun menjadi lebih lapang, hubungan antarwarga semakin erat, dan ibadah di bulan suci dapat dijalankan dengan penuh keikhlasan dalam bingkai kebersamaan.(red)
Editor : Redaksi