SURABAYA –Jurnalperistiwa.id , Peta layanan kesehatan nasional akan segera memasuki babak baru mulai 2026 melalui penerapan konsep Rumah Sakit Berbasis Kompetensi. Menyambut perubahan besar tersebut, Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (RS Kemenkes) Surabaya bersama Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Jawa Timur menggelar pertemuan strategis guna menyamakan langkah transformasi layanan, Rabu (10/12/2025).
Forum yang berlangsung di RS Kemenkes Surabaya itu dihadiri jajaran pimpinan RSUD se-Jawa Timur. Agenda utama pertemuan difokuskan pada penguatan mutu layanan, kesiapan sumber daya manusia, serta pembenahan tata kelola rumah sakit agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pasien.
Baca juga: Polantas Nganjuk Hidupkan Edukasi Lalu Lintas Lewat Game Seru Berhadiah Helm SNI
Berbeda dari sistem lama yang mengklasifikasikan rumah sakit dalam kategori A, B, C, dan D, model Rumah Sakit Berbasis Kompetensi menitikberatkan pada kemampuan nyata rumah sakit dalam menangani kelompok penyakit tertentu, seperti jantung, saraf, kanker, dan penyakit kronis lainnya. Penilaian tidak lagi hanya soal bangunan, tetapi juga pada kualitas SDM, kelengkapan alat kesehatan, dan kesiapan sarana pendukung.
Pelaksana Harian Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha Muliana L. Siahaan, menyebut perubahan ini menuntut kesiapan menyeluruh. RS Kemenkes Surabaya, kata dia, tidak hanya berfokus pada pembaruan peralatan medis, tetapi juga peningkatan kompetensi tenaga kesehatan serta perluasan akses ke masyarakat.
Penguatan SDM, pemanfaatan teknologi medis mutakhir, dan tata kelola berbasis data menjadi fondasi kami. Kami juga aktif melakukan edukasi kesehatan hingga layanan homecare langsung ke masyarakat,” ungkapnya.
Transformasi ini juga didorong oleh Kementerian Kesehatan melalui evaluasi besar-besaran terhadap standar layanan rumah sakit. Ketua Tim Kerja Penataan Sistem Rujukan Direktorat Pelayanan Klinis Kemenkes, Ratih Dwi Lestari, menjelaskan bahwa pembaruan standar telah diterbitkan dan rumah sakit diminta terus memperbarui data agar sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Model rumah sakit berbasis kompetensi sangat terbuka. Rumah sakit akan ditempatkan sesuai kemampuan sebenarnya, bukan sekadar kelas administratif,” jelas Ratih.
Baca juga: RS Kemenkes Surabaya dan ARSADA Jatim Perkuat Kolaborasi Menuju Rumah Sakit Berdaya Saing Global
Ia juga menyebut Jawa Timur sebagai salah satu daerah paling progresif. Dari lebih 400 rumah sakit di provinsi ini, sekitar 89 persen telah menyelesaikan tahap awal penilaian kompetensi—angka yang jauh melampaui rata-rata nasional.
Ketua ARSADA Jawa Timur, dr. Atok Irawan, menambahkan bahwa rumah sakit daerah harus serius memperkuat kompetensi tenaga medis, memperbaiki manajemen kinerja, serta memastikan layanan berjalan sesuai standar nasional agar tidak tertinggal dalam sistem baru ini.
Sebagai bukti kesiapan menghadapi era rumah sakit berbasis kompetensi, RS Kemenkes Surabaya juga memperkenalkan dua layanan unggulan terbaru, yakni PET Scan dan Radioterapi. Teknologi PET Scan yang baru pertama hadir di Jawa Timur memungkinkan pemetaan penyakit dengan tingkat presisi tinggi, terutama untuk diagnosis dan evaluasi kanker.
Sementara layanan Radioterapi yang menjadi bagian dari pengembangan Pusat Kanker RSUP Kemenkes Surabaya dirancang untuk mempercepat layanan terapi pasien kanker dari berbagai wilayah Indonesia Timur.
Baca juga: RS Kemenkes Surabaya Perkuat Strategi Layanan Menuju Rumah Sakit Berbasis Kompetensi
Kami ingin memangkas waktu tunggu pasien sekaligus memperluas akses layanan onkologi agar masyarakat tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah,” jelas dr. Donald, Sp.OnkRad.
Dengan penguatan layanan unggulan di bidang kanker, jantung, stroke, serta uronefrologi, RS Kemenkes Surabaya menegaskan perannya sebagai Super Hub Rujukan Indonesia Timur. Pengembangan berbasis kompetensi ini diharapkan mampu menciptakan sistem layanan kesehatan yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Transformasi besar ini sekaligus menjadi sinyal bahwa rumah sakit di Jawa Timur tidak hanya dituntut berkembang secara fisik, tetapi juga naik kelas dalam kualitas, profesionalisme, dan daya saing layanan. ( wati )
Editor : Redaksi